merasa beramal
"saudara-saudara.. mohon kumpulkan baju-baju bekas yang tidak dipakai lagi.. untuk diamalkan kepada saudara-saudara kita yang sedang dilanda bencana dan saat ini membutuhkanya"mendengar pengumuman-pengumuman seperti itu.. yang mungkin saat ini sedang banyak di indonesia... aku jadi teringat kepada almarhum bapak...
dulu... ketika aku kecil.. seringkali bapak bilang.. "lee.. klambi-klambi sing ra digae.. dikumpulne.. diwenehne pak **** ae, ben iso dimanfaatne" (lee.. baju-baju yang tidak dipakai.. dikumpulkan.. diberikan ke pak **** saja, agar bisa dimanfaatkan)... dan jika kuingat-ingat.. rasanya belum pernah bapak berkata "amal" untuk hal-hal yang kita sudah tidak butuh dan kemudian diberikan ke orang lain... bapak akan berkata "amal" hanya dalam sedikit hal... misal: pas buah-buahan di kebun belakang rumah banyak... kita-kita anaknya tidak boleh makan semuanya.. namun harus dibagi dan di"amal"kan ke orang lain (sstt.. padahal pinginnya untuk kita semua tuhh... hihihihi)...
sekarang.. mau tak mau aku harus melamunkan kata-kata bapak itu... kalo benar definisi amal seperti yang kuperoleh dari guru-guru agama saat kecil dulu... selalulah amal diiringi harapan kita untuk memperoleh balasan dari tuhan.. atas perbuatan kita itu.. dan dipersempit lagi.. atas pemberian kita itu.....
namun... kadang ada yang mengusik kepalaku... kita memberi ke orang lain barang yang kita sudah tidak butuh.. barang yang kita sudah tidak memakainya.. bahkan mungkin barang yang kita sudah tidak menyukainya... tentu saja "hati" kita dengan mudah melepaskan barang itu... meski mungkin benar.. orang yang kita beri tersebut butuh, mau memakai atau bahkan suka akan barang tersebut...
kalo aku sok logis... bahwa tuhan akan membalas apa yang kita lakukan... berarti.. jika kita "beramal" dengan barang yang kita gak butuh.. kita gak memakai lagi.. lebih-lebih kita gak suka... bisa-bisa balasan tuhan juga sesuatu yang kita gak butuh.. kita gak mau memakai... bahkan mungkin kita juga gak suka... ups... terlalu manusiawi logika ini... hehehehe...
berarti... kita sendiri harus memisah-misahkan kapan kata "beramal" dan "memberi" kita pakai.. karena muatan dari kata itu sangat berimplikasi atas harapan yang muncul di hati kita... "beramal".. membuat kita berharap balasan tuhan... "memberi".. preklah.. pokok memberi.. hehehe...
lebih jauh lagi... mungkin kata "memberi" harus lebih layak digunakan... agar kita gak berharap balasan apa-apa dari dari tuhan... kan katanya kita berbuat didunia ini karena rasa "cinta" kita ke tuhan.. jadi.. kalo cinta.. kenapa berharap balasan dari yang dicintai... "cinta sejati tidak berpamrih... itu kata komik"... hihihi...
ehm... aku gak tahu apakah bapak dulu ada bermaksud tertentu dengan memisah-misahkan penggunaan "beramal" dan "memberi"... namun.. ada atau tidak.. hal ini membuatku telah melamun dan mencari-cari kenapa hal itu terjadi... dan juga sekarang seperti membuatku harus lebih berhati-hati agar tidak geer dulu dengan merasa telah "beramal" ketika aku memberi sesuatu ke makhluk lain...
hks.. aku jadi kangen didukani (dimarahi) bapak... aku jadi kangen bapak..
saito-mo
kuberi apa yang aku suka
kudapat apa yang aku suka


2 Comments:
2:267
34:39
hihihi mudah2an ga slh tulis
hihihi..
makasih mau membaca tulisanku...
semoga gak salah tulis..
Post a Comment
<< Home