Sunday, January 08, 2006

beramal

gak tahu kenapa... tiba-tiba saja ingantanku melayang ketika dulu sekali sedang jumatan di masjid salman bandung... ehmm... mungkin karena sudah berkali-kali gak jumatan.. sehingga kepala tiba-tiba di'gerujuk' dengan nuansa jumatan...

saat itu.. seperti biasa.. masjid salman dipenuhi oleh para jamaah yang berjubel.. shaf-shaf meski lurus terlihat keriting karena seperti tak mampu menyediakan sela bagi yang ingin duduk di dalam.. di emperan dan halaman masjidpun.. koran-koran bertebaran sebagai alas sekaligus bahan bacaan pengisi 'kepala' saat khutbah sedang mengalun... menyelinap diantara barisan tua muda laki perempuan pengemis yang berjajar rapi menjajakan penderitaan diri masing-masing...

untungnya saya masih sempat duduk didalam ruangan.. sehingga tidak perlu menutup mata dari koran dan theather penderitaan pengemis tadi... tiba-tiba.. ups.. seseorang menepuk bahu saya.. minta bergeser sedikit kesamping agar ada sedikit ruang baginya duduk... sedikit bergeser.. tentu saja... dan sebuah tas begedebug lirih diiringi duduknya seseorang.. agak kedepan.. maklum begitu sempitnya ruang.. sehingga membentuk keritingan shaf...

dengan iseng kulirik ke samping... tas kulit... yang tua kusam, kumal dan mblendhuk (menggelembung).. dan di mulut tas berebut keluar tas kresek dan dua ujung sepatu yang kelihatan sangat kusam juga... sehingga membuka sedikit ruang bagi munculnya sedikit baju... yang juga sangat kumal.. mau tak mau mataku melirik ke pemiliknya... seorang tua.. seperti 50 tahunan lebih.. berbaju putih yang sudah berwarna kecoklatan... menutupi beberapa biji kaos yang juga dipakainya... rambutnya putih.. dengan beberapa helai warna hitam yang terlihat sok muda.. kumis putih... terlihat kontras dengan kerut wajahnya yang hitam terbakar sinar mentari.... dan bibirnya tersenyum-senyum... seperti menghapus semua penderitaan yang seharusnya terlukis diwajahnya oleh beban hidupnya.....

ups... sreeeggggg.... pergeseran kotak amal menggunggah lirikanku... (hks... ide kotak amal berjalan selalu ada di komunitas orang islam indonesia yang sedang ngumpul... seperti sebuah stempel pengesahan atas malasnya kita menyisihkan uang bagi makhluk lain)... dan setelah giliranku mengisi... ku geser kotak kayu besar ini ke bapak tua yang kulirik tadi... kotak seperti tak bersambut... namun.. tangan si bapak sibuk mencari disaku celananya yang hitam kumal.. tidak ada apa-apa... mencari di saku bajunya.. tidak ketemu... merogoh di saku tas... ahhhh... terangkat oleh tangan kanannya... koin 50 perak... diperhatikan sebentar olehnya.. dicium oleh bibir tuanya... dan diiringi senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya itu... dimasukkan ke kotak amal kayu itu....

hks... tak terasa airmataku mengalir menghormat pada lelaki disebelahku ini... 50 perak... saat itu mungkin hanya sebiji gorengan yang bisa ditukar oleh koin itu... namun mungkin dia harus semakin menghitamkan kulitnya dengan sinar mentari agar bisa memperolehnya.. 50 perak itu rasanya bisa sangat berguna bagi perut kempis tuanya.... bisa berguna bagi keluarga dan anak-anaknya... kalolah di punya..... tetapi..dia masih sempat berpikir untuk memberikan pada makhluk lain... ah.. bukan berpikir lagi... namun "bertindak" memberikan bagi orang lain... diiringi kecupan sepenuh hati dan senyuman sepenuh jiwa..

kembali kuperhatikan bajunya yang putih kecoklatan itu... itulah mungkin baju terbaik dan terbersih yang dia punya... yang khusus dipakainya untuk bertamu dan bertemu denganmu di jumat itu... 50 perak tadi... itulah mungkin koin terakhir yang dia miliki.. yang dia siapkan khusus di saat dia bertamu dan bertemu denganmu... tas kulit tua itu seperti membungkus segala hal yang tidak layak ada ketika dia bertamu dan bertemu denganmu... semuanya itu.. seperti dia siapkan untuk menyambut jumatmu..

sekarang..... seperti kebingungan mataku melirik... tidak kutemukan lagi kusam dan kumalnya tas kulit.. tak kutemukan lagi kusam dan kumalnya baju... semua seperti bersinar terang... diliputi cahaya yang berpendar tenang dari titik dadanya.... semua seperti berebut memancarkan kasih sayangmu.... seluruh titik tubuhku seperti harus bersujud bermakmum kepada orang tua disebelahku ini...ikut bersama memujimu...

setitik ini
telah kau beri lagi
sebagai awal untukku mencari
nikmat hari jumat
yang lama telah pergi
saito-mo
semoga masih ada jumat lagi

0 Comments:

Post a Comment

<< Home