Friday, November 28, 2008

kerajaan

jumatan tadi.. sambil duduk.. aku teringat cerita tentang umar bin abdul azis (bener tentang dia ga ya?)... cerita ketika dia sedang di kamar, malam hari, bekerja. salah satu anggota keluarganya mengetuk pintu mohon bicara..
ketika anggota keluarga tadi masuk..
umar bertanya: "berbicara masalah keluarga atau kerajaan?"
"masalah keluarga ya abi", jawabnya.
kemudian umar mematikan lampu kamar sambil berkata, "karena urusan keluarga, lampu ini saya matikan. aku tidak mau menggunakan harta kerajaan untuk urusan keluargaku"

saya yakin makna cerita diatas sudah sangat sering dibahas. sebagian besar pembahasan, yang saya tau, berkisar pada masalah "korupsi", pemisahan aset negara, perusahaan, aset bersama, terhadap kepentingan pribadi. dan tentu saja saya setuju dengan makna-makna cerita itu.

ehm... hanya saya jadi ingin melamun lebih jauh. ada satu kandungan implisit cerita itu.. kalo boleh saya bilang "kandungan".. bahwa "harta kerajaan" adalah harta rakyat.. bukan keluarga atau harta pribadi sultan.. meskipun saya ga tau gimana pemisahan "harta kerajaan" dengan "harta raja" itu sendiri.. mungkin memang saat masa umar bin abdul azis yang begitu terkenal itu.. sultan atau raja memang digaji... sehingga.. jika dibilang sebagai harta kerajaan, baik berupa tanah, bangunan, hewan, atau apa saja.. seharusnya harta itu adalah harta rakyat... hks...

saya ga tau, memang disembunyikan atau apa.. jika memang benar bahwa sultan itu digaji.. berarti sultan adalah jabatan.. jabatan yang bisa diduduki oleh siapa saja.. karena, bagi saya gaji melekat dengan sebuah kedudukan.. melekat dengan jabatan... lah kalo begitu.. boleh dibilang bahwa sultan saat itu seharusnya bukan keturunan.. bukan karena hubungan darah.. meskipun, kalo boleh jujur, saya belum pernah membaca di buku manapun yang pernah saya baca.. ada sultan kerajaan jaman itu yang diangkat bukan karena garis keturunan.. so?..

lebih melenceng lagi.. bagiku.. sebenarnya kesultanan adalah tipe kepemimpinan yang sama sekali tidak pernah diamanatkan oleh kanjeng nabi... saya meyakini sekali bahwa kanjeng nabi tidak akan pernah meninggalkan wasiat agar anak keturunanya menjadi "pemimpin politik", kalo pemimpin moral emang iya....

nah.. yang saya heran.. koq hampir tidak pernah ada ahli-ahli ilmu islam yang berteriak lantang bahwa "kerajaan adalah tidak sesuai dengan ajaran islam"... pemimpin bukanlah hal yang bisa diturunkan kepada anak cucu.. pemimpin lahir karena kemampuan dan kewibawaan serta ditempa oleh situasi...

para ahli ilmu islam hanya bilang... "kembali ke kejayaan islam jaman dulu".. hanya itu thok... kemudian menyoroti sistem pemerintahan dan kehidupan saat ini.. dan bilang .. itu tidak islami.. ini tidak islami... tapi.. ga pernah bilang.. kerajaan bukan sistem islami...

jangan-jangan para ahli ilmu islam ini mengekor pada ahli-ahli yang hidup di arab?.. yang memang hidup di alam kerajaan.. dan saya yakin para ahli arab tersebut ga bakal berani bilang kalo kerajaan adalah salah.. hehehe.. bisa kena pancung kalo berani bilang begitu.. does it mean that they are not independent at all?????.... hehehe.. takut sama raja-rajanya kali.. (sst.. raja arab diawali oleh muawiyah kan?.. setelah perang dengan sayidina ali?.. bukan oleh kanjeng nabi kan?.. bukan oleh sayidina ali kan?... hayooo... mana yang lebih islami?..

dan kalo boleh saya tulis... setau saya... sejak dulu kala.. selalu dipisahkan.. ahli ilmu islam dengan para pemegang kekuasaan pemerintahan.. bahkan disebutkan dengan jelas... jangan sampe ahli ilmu islam mendekati pemegang kekuasaan...

so.. mana yang disebut islami?.. untuk bagian manakah islam itu?.. seluruh aspek kehidupan?.. atau hanya untuk individu-individu.. bukan untuk sistem kekuasaan dan pemerintahan?... lalu.. pernahkan hal-hal ini terpikirkan oleh rekan-rekan yang selalu meneriakan slogan negara bersyariat islam?... pernahkah mereka berpikir bahwa bahwa sistem kekuasaan jaman dulu bukanlah sistem islam... just monarkhi by somebody that a muslem people?.. jangan-jangan teman-teman ini hanya ngerti teriak "allahu akbar".. seperti di tv-tv itu.. tanpa tau betapa akbarnya gusti pengeran itu.. dan bahkan mengecilkan arti kata "akbar"

dan.. memang akbar hanya bisa dirasakan dengan hati

skud ai
akbar

2 Comments:

At 9:43 PM, Blogger Bejoang Slalu 'tuk Islam said...

Islam artinya syahadat, sholat, puasa, zakat, naik haji. Islam untuk dunia dan dunia untuk Islam. Islam ada di mana-mana, di dalam dan seluruh hidup. Iman ada di mana? dalam hati (takut pada-Nya- patuh pada peraturannya, madhep manteb--istilah njenengan kepada Allah baik terpaksa ataupun rela), hati-hati--tak menyakiti orang lain dalam bertutur, hati-hati--tak menyakiti orang lain dalam perbuatan. Peace bro, met berjuang di mana pun kau berada.

 
At 9:45 PM, Blogger Bejoang Slalu 'tuk Islam said...

Bro, kalo nulis Allah Swt pake uruf besar dunk..Jangan main-main ya, yang buat aku dia tu, Please..eh, Peace.

 

Post a Comment

<< Home