nitip
akhir-akhir ini lagi musim orang kawin.. eh nikah.. sehingga banyak sekali undangan kondangan bersliweran (nikah saja ada musimnya.. hks.. jangan-jangan nanti ada musim buat anak juga.. sebagai lanjutan musim orang kawin.. hehehe)sebenarnya aku juga tidak mau memperhatikan.. apalagi memusingkan.. tapiii.. koq sering banget menusuk mata dan telingaku... ehmm ya masalah orang "nitip" ketika tidak bisa datang ke pesta nikah..
terus terang aku sangat heran dengan budaya "nitip" ini.. sejak dulu kala.. bahkan sampai sekarang aku berpikir bahwa orang datang ke acara kawinan adalah sebagai rasa hormat dan senang atas kawinnya seseorang.. sekaligus memenuhi rasa ingin tau siapa sih lawan dari kenalan kita yang kawin ini.. ditambah pula keinginan untuk ikut saweran doa doi agar yang kawin ini bisa lebih langgeng, beranak-pinak dengan baik, tidak bubrah dan lain-lain keinginan baik yang berhubungan dengan pembentukan keluarga..
rasanya, pikiranku ini diperkuat oleh kenalan-kenalanku yang akan kawin.. yang selalu bilang.. "doain aku ya.. datang ya.. dll"... bahkan.. keinginan akan doa ini diperkuat dengan tulisan besar-besar di setiap undangan yang disebarkan "mohon doa restu"... terus.. kalo ingin lebih religius.. lebih agamis (kata orang).. pikiranku ini rasanya sesuai dengan ajaran buku-buku suci dan para ahli agama yang mengatakan bahwa para tamu ini diharapkan doanya untuk sang mempelai sekaligus sebagai saksi bahwa yang menikah adalah mempelai tersebut.. bukan orang lain.. so.. jika nanti ketemu dijalan.. kita yang hadir ini tau.. bahwa mereka adalah sepasang suami istri..
tapi... saya ga tau kenapa.. rasanya pikiranku ini ga sejalan dengan apa yang diamini dan dilakukan oleh orang-orang disekitarku.. (tapi semoga masih sama dengan yang mereka yakini.. meski yang mereka lakukan beda dengan yang diyakini.. munafikkah?) ketika mau datang ke acara kawinan.. yang pertama kali teringat adalah mencari amplop.. mencari pulpen untuk menulis nama dan alamat.. kemudian memutuskan berapa duit harus dimasukkan ke amplop itu.. dan yang lebih mengasyikkan.. jika mereka ga bisa datang ke acara kawinan.. mereka sibuk mencari orang yang bisa datang ke kawinan agar bisa nitip amplop yang lengkap dengan identitas diri tadi.. hks..
dan yang lebih mengejutkan lagi.. pihak pengundang memang menyediakan genthong guede berlobang kecil seperti celengan ketika aku masih kecil.. yang membuatku teringat dengan orang-orang yang memacetkan jalan sambil melambai-lambaikan tangan dan berteriak-teriak: "amal, amal, amal".. bahkan.. dari beberapa orang yang saya tau.. gentong ini nanti dipecah.. amplop-amplop dicatat.. didaftar.. dilist.. siapa beramal berapa... persis seperti mencatat debet kredit akutansi bank..
terus terang.. aku bingung kenapa mereka begitu.. ehm.. tapi.. dari hasil ngobrol-ngobrol dengan para penitip ini.. ada yang bilang.. "orang ini selalu datang ke rumah ketika ada acara.. jadi saya harus membalasnya"... dan bahkan lagi.. aku pernah melihat.. mereka-mereka para amplop fans ini.. sebelum datang ke acara kawinan.. akan melihat buku besar catatan siapa membayar berapa .. untuk kemudian memastikan bahwa amplop ini akan berisi jumlah yang pas.. dan yang lebih mengasyikkan.. mereka ini juga menghitung.. orang ini ntar akan memiliki acara berapa kali.. saya berapa kali.. sehingga jumlah duit dalam amplop bisa disesuaikan..
dari obrolan-obrolan serta pemandangan mataku itu.. aku mencoba mereka-reka.. apakah memang budi dendam di bangsaku ini begitu diperhatikan.. sehingga setiap sesuatu harus dibalas sebesar yang dilakukan (seperti tuhan ae.. ssttt.. gimana kalo ada devaluasi ya.. apa ga bingung ngetung duitnya?).. tapi.. semoga bukan karena nilai-nilai masyarakat kita berubah.. hanya dinilai dari jumlah duit.. menjadi semakin bersifat materialistis.. semoga bukan.. semoga bukan.. semoga bukan.. hks.. meski banyak perilaku orang-orang disekitarku menunjukkan betapa materi adalah ukuran hidup mereka.. hks..
aku jadi miris.. aku jadi sedih..
dan.. tiba-tiba kudengar suara..
"dik.. hari minggu aku ga bisa datang... nitip ya..!""...
dan aku berlari sambil menjerit.. "tidakkkkkk...... aku ga mau datang kemana-mana..." karena aku akan menjadi orang paling aneh di seluruh acara kawina.. sebab.. aku mungkin ga akan bawa amplop..
mastrip
menjadi asing di negeri sendiri


2 Comments:
:O memang beda ...
Tp pantas dg namanya dink, 'satu yg unique'! ;)
Bukan hanya di Indonesia kok. Di S'pore juga sama...eh malah worse :)
Post a Comment
<< Home