sampyuh
meski berat, meski harus dengan berjuang keras... sedikit demi sedikit, kerak ku mulai terkikis... meski sangat lemah.. sudah mulai kurasakan getar-getar gelombangmu... semoga aku tidak berhenti.. semoga aku tidak lelah.. semoga semakin keras aku bersedia berusaha...dan seperti biasa... uluran tanganmu selalu kuharap.. menggandengku jauh.. meninggalkan keramaian ini...
terima kasih
dan engkaupun selalu datang
ketika jeritanku sudah tak bersuara lagi
terima kasih
engkaupun selalu muncul
ketika gelapku tak bercahaya lagi
terima kasih
engkaupun selalu menerima
ketika sendiriku tak berkawan lagi
terima kasih
engkaupun selalu hangat
ketika dingin jiwaku tak tertahankan lagi
terima kasih
ijinkan airmataku menetes
sebagai ungkapan hormat atas lapangmu
sebagai ungkapan hormat atas besarmu
terima kasih
ijinkan mataku berkaca-kaca
sebagai cermin atas adaku
sebagai cermin atas rasaku
terima kasih
engkau yang tak terkalahkan
dan hanya terima kasih
dariku
yang mungkin tak kau butuhkan
terima kasih
engkau yang tak tergantikan
dan hanya terima kasih
dariku
hanya untukmu
dan engkaupun selalu datang
ketika jeritanku sudah tak bersuara lagi
terima kasih
engkaupun selalu muncul
ketika gelapku tak bercahaya lagi
terima kasih
engkaupun selalu menerima
ketika sendiriku tak berkawan lagi
terima kasih
engkaupun selalu hangat
ketika dingin jiwaku tak tertahankan lagi
terima kasih
ijinkan airmataku menetes
sebagai ungkapan hormat atas lapangmu
sebagai ungkapan hormat atas besarmu
terima kasih
ijinkan mataku berkaca-kaca
sebagai cermin atas adaku
sebagai cermin atas rasaku
terima kasih
engkau yang tak terkalahkan
dan hanya terima kasih
dariku
yang mungkin tak kau butuhkan
terima kasih
engkau yang tak tergantikan
dan hanya terima kasih
dariku
hanya untukmu
saito-mo
meja kerja semakin terasa hambar
meja kerja semakin terasa hambar


0 Comments:
Post a Comment
<< Home